Limited Lunar New Year Collection
2026
Cacangkaja: The Soul under the Oath merupakan seri terbatas karya tenun Setia Cap Cili di bawah arahan Idon Pande selaku Direktur Kreatif yang berakar pada kisah Kang Cing Wei, putri pedagang berdarah Tionghoa yang dimuliakan sebagai Sri Mahadewi Cacangkaja Cihna, permaisuri raja Sri Aji Jaya Pangus. Berangkat dari ingatan sejarah Dalem Balingkang, koleksi ini menafsir ulang makna pengabdian sebagai ruang kompleks yang dibentuk oleh relasi gender, kuasa, dan perjumpaan budaya.
Cacangkaja: The Soul under the Oath is a limited series of handwoven works by Setia Cap Cili, conceived under the creative direction of Idon Pande. Rooted in the historical memory of Dalem Balingkang, the collection revisits the figure of Kang Cing Wei—a Chinese-born woman honored as Sri Mahadewi Cacangkaja Cihna—not as a distant legend, but as a living site of devotion, power, and cultural negotiation.
Koleksi ini mengajukan satu pertanyaan yang sunyi namun tajam:
Ketika sumpah dilanggar, siapa yang menanggung akibatnya?
Melalui lapisan tekstil tradisional, bentuk yang terjaga, dan konstruksi yang disengaja, Cacangkaja merefleksikan bagaimana kesetiaan kerap diposisikan sebagai kebajikan perempuan, sementara bebannya dibagi secara timpang.
This collection poses a quiet yet incisive question:
When a vow is broken, who is asked to bear its consequences?
Through carefully controlled forms, layered textiles, and deliberate constructions, Cacangkaja reflects on how loyalty has long been framed as a feminine virtue, while its while responsibility and sacrifice are unequally borne.
Dalam konteks ini, kain berfungsi sebagai tubuh sekaligus bahasa. Kain menjadi kulit kedua tempat perempuan mengekspresikan kehadiran dan perlawanan yang halus. Berbeda dari prasasti batu yang membekukan sejarah, karya tenun ini menawarkan pengetahuan dengan cerita alternatif yang bernapas, bergerak, dan mengingat.
Cacangkaja menuliskan kembali kisah Kang Cing Wei bukan sebagai bayangan yang terikat legenda, melainkan sebagai jiwa yang bertahan di bawah sumpah, tanpa pernah sepenuhnya lenyap di dalamnya.
Here, cloth functions as both body and language. Textile becomes a second skin through which presence, endurance, and subtle resistance are articulated. In contrast to stone inscriptions that freeze history, these woven works propose an alternative archive—one that breathes, moves, and remembers.
Cacangkaja rewrites the story of Kang Cing Wei not as a shadow bound to myth, but as a soul that endures beneath an oath, without ever fully disappearing within it.
Dalam pemaknaan lain, narasi Kang Cing Wei dan Jaya Pangus juga dapat dibaca sebagai metafora kesatuan unsur, ketika feminitas dan maskulinitas melebur menjadi satu. Seperti Danau Batur, dengan bentuk sabitnya yang terukir oleh letusan Gunung Batur Purba, kisah mereka mewujudkan prinsip siklus kehancuran dan kelahiran kembali.
Apa yang tampak sebagai keterputusan, kematian, dan kutukan, justru menjadi syarat bagi keberlanjutan, menggema dalam ritme kosmologis di mana pengorbanan menjaga keseimbangan, dan pembaruan tak pernah terpisah dari kehilangan.
Read through another lens, the narrative of Kang Cing Wei and Jaya Pangus also unfolds as a metaphor of elemental unity, where femininity and masculinity converge. Like Lake Batur—its crescent form carved by ancient volcanic eruption—their story embodies a cyclical principle of rupture and renewal.
What appears as curse, loss, or death becomes the very condition of continuity, echoing a cosmological rhythm in which sacrifice sustains balance, and renewal remains inseparable from loss.
Setiap karya adalah bentuk penghormatan dan memicu pertanyaan: apa makna mencinta, berkorban, dan dikenang bukan sebagai diri sendiri, melainkan sebagai bayangan yang terus menari tanpa akhir dalam sebuah legenda?
Each work stands as both tribute and provocation: asking what it means to love, to sacrifice, and to be remembered not as oneself, but as a presence that continues to move within legend,
Satu Kisah, Tujuh Fragmen
Cacangkaja terurai dalam tujuh karya kain tenun, masing-masing meresonansikan fase berbeda dari perjalanan Kang Cing Wei, baik di alam kehidupan maupun di keabadian. Melalui fragmen-fragmen ini, lapisan-lapisan cerita perlahan muncul, memantik pertanyaan:
Kecamuk perasaan apa yang harus Kang Cing Wei lalui untuk menjadi dirinya sendiri?
One Tale, Seven Fragments
Cacangkaja unfolds in seven handwoven artpieces, each embodying a different phase of Kang Cing Wei’s journey, whether in the realm of the living or the realm of eternity. Through these fragments, strands of wonder slowly emerge, inviting the question:
What storms of feeling must she endure to become herself?
KARYA I — KUTA DALEM
Kuta Dalem merupakan karya pembuka dalam koleksi Cacangkaja; The Soul under the Oath. Judul ini merujuk pada Kuta Dalem—puri atau istana tempat pertemuan pertama sekaligus pernikahan antara Raja Sri Aji Jaya Pangus dan Kang Cing Wei. Ruang ini bukan hanya situs personal, melainkan titik awal lahirnya sebuah peristiwa budaya. Kini, kawasan tersebut dikenal sebagai Pura Puncak Penulisan, dan secara geografis menjadi Banjar Kuta Dalem, Kecamatan Sukawana, Kintamani.
Karya ini hadir sebagai penanda momen sebelum konflik, sebelum sumpah dipertanyakan. Ia merepresentasikan fase ketika perjumpaan masih dimaknai sebagai kemungkinan—sebuah ikatan yang diyakini suci, setara, dan membawa harapan akan masa depan bersama.
This work serves as the opening piece in the Cacangkaja: The Soul under the Oath collection. The title refers to Kuta Dalem—a puri, or palace—recognized as the site of the first meeting and subsequent marriage between King Sri Aji Jaya Pangus and Kang Cing Wei. More than a personal setting, the space marks the point of origin of a significant cultural event. Today, the area is identified as Pura Puncak Penulisan, geographically located in Banjar Kuta Dalem, Sukawana District, Kintamani.
The work functions as a marker of the moment preceding conflict, before the oath comes under scrutiny. It represents a phase in which the encounter was still understood as possibility—an alliance regarded as sacred and equal, and one that carried the expectation of a shared future.
Karya ini berfungsi sebagai pengingat bahwa kisah Kang Cing Wei dan Jaya Pangus tidak hanya membentuk narasi personal, tetapi juga menciptakan sejarah dan praktik budaya baru. Hingga hari ini, Chinese coin masih digunakan secara luas dalam upacara adat dan keagamaan di Bali—sebagai jejak hidup dari perjumpaan lintas budaya yang pernah terjadi.
Warna merah dan hitam yang ditenun dalam satu bidang kain menandai pertemuan dualisme: dua sistem kepercayaan, dua latar budaya, dua dunia yang berbeda. Dalam Kuta Dalem, perbedaan tersebut tidak ditampilkan sebagai konflik, melainkan sebagai perjumpaan yang setara—sebuah titik temu sebelum relasi kuasa dan beban sumpah mulai terbentuk.
This work underscores that the story of Kang Cing Wei and Jaya Pangus does not merely shape a personal narrative, but also gives rise to new histories and cultural practices. To this day, Chinese coins continue to be widely used in Balinese customary and religious ceremonies, serving as a living trace of a cross-cultural encounter that once took place.
The red and black threads woven within a single field of cloth mark the meeting of dualities: two systems of belief, two cultural backgrounds, two distinct worlds. In Kuta Dalem, these differences are not presented as conflict, but as an encounter between equals—a point of convergence before relations of power and the weight of the oath began to take form.
KARYA II — PING-AHN
Ping-Ahn hadir sebagai ruang peralihan—sebuah karya yang berbicara tentang pencarian ketentraman setelah kerusakan. Mengambil nama dari bahasa Mandarin yang bermakna keamanan atau kedamaian, istilah ini kemudian hidup dalam lidah lokal sebagai Pinggan, sebuah wilayah pegunungan yang menyimpan lapisan sejarah Dalem Balingkang.
Karya ini mengeksplorasi perubahan serat dan sisir pada mesin tenun, menghasilkan kain yang bersifat transparan, namun tetap menyimpan tekstur dan motif. Manipulasi struktur tenun menciptakan lapisan-lapisan halus yang saling bertumpuk, membentuk ritme visual yang menyerupai kontur pegunungan dan perbukitan di Desa Pinggan.
Transparansi tidak dihadirkan sebagai ketiadaan, melainkan sebagai ruang antara—tempat cahaya, udara, dan bayangan saling berinteraksi di dalam tubuh kain.
Ping-Ahn emerges as a transitional space—a work that speaks to the search for calm after rupture. Derived from the Mandarin term meaning safety or peace, the name later took root in the local tongue as Pinggan, a mountainous region that holds layered histories of Dalem Balingkang.
The work explores modifications to threads density and reed settings on the loom, resulting a textile that is see-through while still retaining texture and pattern. These manipulations of the woven structure generate subtle, overlapping layers, forming a visual rhythm that recalls the contours of the mountains and hills of Pinggan Village.
Here, transparency is not presented as absence, but as an in-between space—where light, air, and shadow interact within the body of the cloth.
Ping-Ahn menempati fase mencari perlindungan dalam perjalanan batin Kang Cing Wei. Jika Kuta Dalem adalah ruang perjumpaan dan awal sumpah, maka Ping-Ahn adalah momen ketika ketentraman tidak lagi dianggap pasti, melainkan harus diupayakan.
Ia berada di antara penerimaan dan kesadaran awal akan rapuhnya struktur—fase di mana pengabdian mulai berkelindan dengan tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan menahan runtuhnya sesuatu yang telah dibangun.
Ping-Ahn marks a phase of seeking refuge within Kang Cing Wei’s inner journey. If Kuta Dalem marks the space of encounter and the beginning of the oath, then Ping-Ahn signifies a moment when tranquility can no longer be assumed, but must instead be actively pursued.
It exists between acceptance and an emerging awareness of structural fragility—a phase in which devotion becomes intertwined with the responsibility to protect, to care for, and to prevent the collapse of what has already been built.
KARYA III — JEDA
Jeda berada di bagian tengah koleksi sebagai titik awal konflik. Ia menjadi momen hening sebelum narasi bergerak menuju konflik batin dan pengkhianatan. Karya ini berfungsi sebagai poros yang menggeser cerita dari sejarah personal Kang Cing Wei menuju kritik struktural atas tubuh perempuan dalam sistem kekuasaan, adat, dan pewarisan.
Jeda berbicara tentang waktu yang digantung di tubuh perempuan. Merah menyala pada kain ini bukan simbol gairah atau kemakmuran, melainkan ketegangan antara harapan sosial dan kenyataan biologis yang tidak selalu sejalan. Motif pepatran, ukiran bunga, dan limas Bali kuno hadir sebagai penanda tradisi yang memuliakan kesuburan, namun sekaligus meletakkan beban sunyi pada tubuh perempuan untuk terus “menghasilkan”.
Efek transparansi di tepi kain diciptakan melalui perubahan perhitungan benang lusi, membentuk ruang kosong yang rapuh. Di sanalah jeda bersemayam: masa tunggu yang tak diberi nama, ketika nilai seorang perempuan direduksi pada rahim dan kelanjutan garis keturunan. Karya ini menyoroti bagaimana tubuh perempuan kerap diperlakukan sebagai ruang ekspektasi kolektif dalam sistem kerajaan dan budaya patriarkal, bukan sebagai entitas otonom yang berhak menentukan makna keberadaannya sendiri.
Jeda menolak narasi bahwa nilai perempuan diukur dari kemampuannya melahirkan; ia menghadirkan penantian sebagai pengalaman manusiawi, bukan kewajiban biologis.
Jeda marks the central section of the collection as the point at which conflict begins. It marks a moment of stillness before the narrative shifts toward inner turmoil and betrayal. The work serves as an axis, redirecting the story from Kang Cing Wei’s personal history toward a structural critique of the female body within systems of power, culture, and lineage.
Jeda speaks to time suspended within the female body. The vivid red of the textile is not a symbol of passion or prosperity, but of the tension between social expectation and biological reality, which do not always align. Motifs of pepatran, floral carvings, and ancient Balinese limas forms appear as markers of tradition that celebrate fertility, while simultaneously placing a silent burden on women’s bodies to continually “produce.”
The effect of transparency along the edges of the cloth is created through adjustments to the warp-thread calculations, forming fragile empty spaces. It is within this space that the pause resides: an unnamed period of waiting, when a woman’s value is reduced to the womb and the continuation of lineage. The work highlights how the female body is often treated as a site of collective expectation within royal systems and patriarchal culture, rather than as an autonomous entity with the right to define the meaning of its own existence.
Jeda counters the narrative that a woman’s worth is measured by her capacity to bear children; it presents waiting as a human experience, not a biological obligation.
KARYA IV — MABANDA
Mabanda adalah kisah tentang keterikatan yang tidak lagi memberi perlindungan, melainkan menjadi beban yang harus dipikul hingga akhir. Ikatan antara Kang Cing Wei dan Jaya Pangus—yang dahulu lahir dari cinta, kesepakatan, dan adat, perlahan berubah menjadi simpul yang menyakitkan. Ketika kesetiaan retak, ikatan itu tidak runtuh namun justru mengencang.
Dalam versi yang melankolis ini, Mabanda berbicara tentang cinta yang tidak diberi ruang untuk selesai, tentang dua jiwa yang tetap dipaksa berada dalam satu cerita bahkan setelah dihukum, dikutuk, dan dilenyapkan. Mereka tidak diberi kesempatan untuk melepaskan hanya diperintahkan untuk tetap terikat, selamanya, sebagai legenda.
Mabanda hadir sebagai fase duka dalam koleksi—setelah kesunyian Jeda, Ia menjadi titik di mana cinta, pengkhianatan, dan hukuman bertemu. Karya ini menandai perubahan narasi dari konflik batin menuju nasib yang tidak dapat ditawar: keterikatan yang melampaui hidup, tubuh, dan waktu.
Mabanda is a story about a bond that no longer offers protection, but instead becomes a burden carried to the very end. The tie between Kang Cing Wei and Jaya Pangus—once born of love, agreement, and tradition—slowly tightens into a painful knot. When loyalty fractures, the bond does not break; it only constricts.
In this melancholic telling, Mabanda speaks of a love that is never given the space to end, of two souls forced to remain within the same story even after being judged, cursed, and erased. They are not granted the mercy of release—only commanded to remain bound, forever, as legend.
Mabanda emerges as the phase of mourning within the collection—following the stillness of Jeda, it becomes the point where love, betrayal, and punishment converge. This work marks a shift in the narrative, from inner conflict toward an inescapable fate: a bond that outlives life, body, and time.
Mabanda memaknai keterikatan sebagai takdir yang kejam. Ikatan pernikahan, adat, dan cinta tidak dilepaskan bahkan ketika keduanya telah dihancurkan oleh amarah dewa. Kain ini menjadi metafora bagi jiwa Kang Cing Wei dan Jaya Pangus—terikat dalam satu energi, satu kisah, tanpa kesempatan untuk memilih akhir mereka sendiri. Di sini, keterikatan bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang hukuman yang diwariskan oleh sejarah dan kepercayaan.
Mabanda articulates attachment as a cruel fate. The bonds of marriage, tradition, and love are not released, even after both have been destroyed by the wrath of the gods. This handwoven art piece becomes a metaphor for the souls of Kang Cing Wei and Jaya Pangus—bound within a single energy, a single story, with no chance to choose their own ending. Here, attachment is no longer about love, but about a punishment handed down by history and belief.
KARYA V — PUNDARIKA
Pundarika menghadirkan momen ketika kutukan tidak lagi dipahami sebagai akhir, melainkan dimurnikan menjadi fungsi. Terinspirasi dari makna lotus putih—kemurnian yang tumbuh dari lumpur—karya ini membaca ulang figur Kang Cing Wei dan Jaya Pangus sebagai Barong Landung: figur yang disungsung, dipuja, dan dipercaya menjaga masyarakat dari bala.
Namun di balik perayaan itu, Pundarika mengajukan pertanyaan sunyi: apakah pemuliaan ini benar-benar bentuk keadilan, atau hanya cara halus untuk meromantisasi penderitaan perempuan yang telah dihukum?
Pundarika introduces a moment in which the curse is no longer understood as an ending, but is instead purified into function. Inspired by the meaning of the white lotus—purity rising from the mud—the work rereads the figures of Kang Cing Wei and Jaya Pangus as Barong Landung: effigies that are upheld, venerated, and believed to safeguard the community from misfortune.
Yet beneath this celebration, Pundarika poses a quiet question: is this elevation truly a form of justice, or merely a subtle way of romanticizing the suffering of a woman who has already been punished?
Karya ini berada pada fase transendensi semu—setelah duka Mabanda dan sebelum perenungan akhir koleksi. Di sinilah kisah pribadi Kang Cing Wei sepenuhnya diambil alih oleh kepentingan masyarakat dan kepercayaan.
Kain ditenun dengan dominasi warna putih sebagai ruang hening dan kemurnian yang seolah dibuat. Motif tumpukan daun lotus disusun berlapis, menciptakan kesan tumbuh dan naik. Garis merah di bagian bawah berfungsi sebagai batas visual—penanda pentingnya benang merah dalam setiap cerita. Kontras antara motif dan bidang polos menegaskan jarak antara cerita yang dirayakan dan penderitaan yang tak nampak, bagai lotus yang mekar dan menutupi lumpur di bawahnya.
Pundarika signals a phase of illusory transcendence—following the mourning of Mabanda and preceding the collection’s final reflection. Here, Kang Cing Wei’s personal narrative is subsumed by the interests of community and belief.
Pundarika is dominated by white, suggesting stillness and constructed purity. Layered lotus leaves rise in tiers, evoking growth and ascent, while a red line along the lower edge marks a visual boundary—the thread that binds each story. The contrast between motif and empty ground highlights the distance between what is celebrated and what remains unseen, like a lotus in bloom concealing the mud beneath it.
KARYA VI — ANANTA
Ananta adalah ruang tanpa jawaban. Di fase ini, Kang Cing Wei tidak lagi hadir sebagai manusia, istri, atau ratu, melainkan sebagai entitas yang dipercaya telah malinggih—Ida Ratu Ayu Mas Subandar—figur suci yang hidup dalam ritus, tarian, dan doa kolektif masyarakat Kintamani. Diabadikan melalui perwujudan Barong Landung Istri, tubuhnya terus dihadirkan, ditarikan, dan dirayakan dari generasi ke generasi.
Namun Ananta tidak bertanya tentang kepercayaan; ia bertanya tentang batin, tentang bagaimana rasanya hidup selamanya di dalam peran yang tak pernah dipilih sepenuhnya.
Ananta menempati posisi akhir sekaligus tanpa akhir. Ia bukan penutup, melainkan perulangan. Karya ini menjadi titik di mana kisah Kang Cing Wei sepenuhnya lepas dari kronologi sejarah dan masuk ke wilayah psikologis dan eksistensial—tempat waktu membeku, dan pengabdian berubah menjadi rutinitas abadi.
Ananta is a space without answers. In this phase, Kang Cing Wei no longer appears as a woman, a wife, or a queen, but as an entity believed to have malinggih—Ida Ratu Ayu Mas Subandar—a sacred figure who lives on through ritual, dance, and the collective prayers of the Kintamani community. Enshrined in the form of the female Barong Landung, her body is continually invoked, performed, and celebrated across generations.
Yet Ananta does not question belief; it turns instead to the interior—to what it means to exist indefinitely within a role never fully chosen.
Ananta occupies a position that is both final and without end. It is not a conclusion, but a recurrence. The work marks the point at which Kang Cing Wei’s story fully departs from historical chronology and enters a psychological and existential realm—where time stands still, and devotion settles into an eternal routine.
Secara visual, Ananta tampil tenang dan minimal. Namun secara teknis, kain ini dibangun melalui perubahan arah lempar sekoci dan pergeseran warna yang berlawanan secara bergantian. Ketegangan halus ini menciptakan ritme tak stabil—sebuah lanskap emosional yang terus berayun, mencerminkan pergolakan batin yang tak pernah benar-benar selesai. Kesederhanaan motif menjadi jebakan visual, menutupi kompleksitas emosi yang berlapis.
Ananta mengajak penikmat karya untuk memasuki ruang empati dan spekulasi: apakah keabadian adalah bentuk puncak kebahagiaan, atau justru penjara paling sunyi? Apakah pengabdian yang tak berujung adalah anugerah, atau sisa hukuman yang dilanggengkan oleh ritual? Dalam tarian yang terus berulang, Ananta tidak menawarkan pembebasan—hanya cermin, tempat emosi penikmat dipantulkan tanpa henti.
Visually, Ananta appears calm and minimal. Beneath this restraint, the textile is built through shifts in the direction of the shuttle throws and alternating, opposing color transitions. This subtle tension generates an unstable rhythm—an emotional landscape in constant oscillation, reflecting an inner turmoil that never fully resolves. The simplicity of the motif becomes a visual trap, concealing layers of emotional complexity beneath its surface.
Ananta invites viewers into a space of empathy and speculation: is eternity the ultimate form of fulfillment, or the quietest kind of prison? Is unending devotion a gift, or the residue of punishment sustained through ritual? In its endlessly repeating dance, Ananta offers no release—only a mirror, where the viewer’s emotions are reflected without end.
KARYA VII — BALI KANG
Bali Kang adalah titik temu sekaligus perpecahan. Sebuah kain sepanjang tiga meter yang membentangkan dua warna kontras: merah darah dan hitam. Di atasnya, motif wayang dua dimensi laki-laki dan perempuan menghadirkan sosok Kang Cing Wei dan Jaya Pangus, tidak sebagai pahlawan atau pengkhianat, melainkan sebagai figur yang terjebak dalam arus cinta, kuasa, dan pilihan.
Sebagai karya terakhir, Bali Kang berfungsi sebagai cermin besar bagi seluruh seri. Ia tidak menyelesaikan narasi, melainkan merangkum dan memantulkannya kembali kepada penikmat. Karya ini menandai titik dari kisah personal Kang Cing Wei menuju kesadaran kolektif tentang bagaimana sejarah dibangun, diwariskan, dan terus diulang.
Kain ini dikerjakan selama dua tahun, sejak perumusan awal draft tenun hingga realisasi akhir, membentang sepanjang tiga meter. Bali Kang mengembangkan inovasi teknik framing ikat dari Setia Cap Cili—sebuah eksplorasi teknis yang tetap berpijak pada pakem tenun lama. Pembagian bidang warna yang tegas serta penyusunan motif figuratif menuntut presisi tinggi yang dikerjakan oleh sembilan orang menjadikan proses penciptaannya sebagai praktik kesabaran dan kolaborasi.
Bali Kang marks both a point of convergence and a site of rupture. A three-meter textile unfolds across two contrasting fields—blood red and black. Upon its surface, two-dimensional wayang motifs of a man and a woman evoke Kang Cing Wei and Jaya Pangus, not as hero or traitor, but as figures caught within the currents of love, power, and choice.
As the final work, Bali Kang functions as a reflective point for the entire series. It does not resolve the narrative, but instead gathers and reflects it back to the viewer. The piece signals a shift from Kang Cing Wei’s personal story toward a collective awareness of how history is constructed, inherited, and continually repeated.
The textile was developed over two years, from the initial weaving drafts to its final realization, extending three meters in length. Bali Kang advances Setia Cap Cili’s framed ikat technique—an innovation that remains grounded in traditional weaving principles. The sharp division of color fields and the arrangement of figurative motifs demand high precision. Crafted by nine artisans, its making became a sustained practice of patience and collaboration.
Bali Kang berbicara tentang dualisme—cara kita kerap membaca sejarah sebagai dua sisi koin: benar dan salah, indah dan buruk, korban dan pelaku. Melalui karya ini, perajin mengajak penikmat untuk membongkar cara baca tersebut dan membiarkan imajinasi bekerja lebih liar.
Dari kehancuran kisah cinta Kerajaan Dalem Balingkang, justru lahir akulturasi budaya yang bertahan hingga ribuan tahun, melahirkan adat, ritus, dan identitas peranakan yang kaya. Kisah Raja Bali dan Putri bermarga Kang ini menjadi pengingat bahwa segalanya bermula dari cinta—sebuah daya yang mampu melahirkan sukacita, namun juga membenarkan ego, dan menyalakan siklus sejarah yang tak pernah benar-benar usai.
Bali Kang speaks to dualism—the tendency to read history as two sides of a coin: right and wrong, beauty and ruin, victim and perpetrator. Through this work, the maker invites viewers to unsettle such binaries and allow the imagination to move more freely.
From the collapse of the love story of the Dalem Balingkang Kingdom emerged, paradoxically, a cultural acculturation that has endured for centuries, giving rise to customs, rituals, and a rich peranakan identity. The story of the Balinese king and the princess of the Kang lineage serves as a reminder that everything begins with love—a force capable of generating joy, yet also of justifying ego and setting into motion cycles of history that never fully come to an end.
CONTEMPORARY ADDITION,
CLASSIC FORM.
Setia Cap Cili introduces the classic kiss-lock bag to the collection, developed in collaboration with BY HER.
Berkolaborasi dengan BY HER, Setia Cap Cili menghadirkan tas klasik kiss-lock edisi terbatas. Setiap tas dibuat menggunakan kain tenun eksploratif dari koleksi Cacangkaja dan dijahit tangan oleh para pengrajin di Bali.
In collaboration with BY HER, Setia Cap Cili presents a limited-edition classic kiss-lock bag. Each piece is crafted from exploratory handwoven art piece from the Cacangkaja collection and hand-stitched by artisans in Bali.




DHIAJENG




CANDRAMAYA




SUNDARI
Limited pieces available,
inquire to own.
Discover The Look
Glimpses of how the Cacangkaja art pieces are styled and draped
KARYA I — KUTA DALEM
KARYA II — PING-AHN
KARYA III — JEDA
KARYA IV — MABANDA
KARYA V — PUNDARIKA
KARYA VI — ANANTA
KARYA VII — BALI KANG
Limited pieces available,
inquire to own.